Kitab An-Nahwu Fii Sab’ati Ayyam
Kelas Selesai

Kitab An-Nahwu Fii Sab’ati Ayyam

Ustadz Dr. Rizki Gumilar, M.A.
Ustadz Dr. Rizki Gumilar, M.A.
Dosen STDI Imam Syafi'i Jember dan International Open University (IOU). Founder & Pengajar Nadwa Abu Kunaiza.
Pengantar: Bahasa Indonesia
253 Peserta 11 Pelajaran Sertifikat Modul Kelas (PDF)
Pemula Nahwu 28 Juli 2026

Kitab nahwu dalam 7 hari ini dirancang sebagai program pengenalan dasar Ilmu Nahwu yang disusun secara ringkas, sistematis, dan mudah dipahami oleh para pembelajar pemula. Pembelajaran difokuskan pada kaidah-kaidah dasar bahasa Arab yang paling penting untuk membantu peserta memahami struktur kalimat Arab secara bertahap dalam waktu yang relatif singkat.

Materi dalam kelas ini disusun ke dalam tujuh bab pembahasan inti yang mencakup dasar-dasar penyusunan kalimat, pengenalan i‘rab sederhana, serta pemahaman struktur bahasa Arab yang paling sering digunakan. Dengan pendekatan yang praktis dan aplikatif, peserta diharapkan tidak hanya memahami teori dasar Nahwu, tetapi juga mampu mulai membaca, memahami, dan menyusun kalimat Arab sederhana secara mandiri.

Kelas ini sangat cocok bagi peserta yang baru memulai perjalanan belajar bahasa Arab dan ingin memiliki fondasi Nahwu yang kuat sebelum melanjutkan ke pembelajaran kitab atau materi bahasa Arab tingkat berikutnya.

Yang akan Anda pelajari

  • Memahami kaidah dasar bahasa Arab melalui tujuh bab pembahasan inti.
  • Mengenal struktur dasar penyusunan kalimat dalam bahasa Arab.
  • Memahami konsep dasar i‘rab dan perubahan akhir kata.
  • Membedakan fungsi kata dalam susunan kalimat bahasa Arab.
  • Menerjemahkan kalimat sederhana berdasarkan struktur Nahwu dasar.
  • Menyusun dan menulis kalimat Arab sederhana secara bertahap.
  • Memperoleh fondasi penting untuk melanjutkan pembelajaran Ilmu Nahwu ke tingkat yang lebih lanjut.

Untuk siapa kelas ini?

  • Pemula yang baru mulai belajar bahasa Arab.
  • Pelajar dan santri yang ingin memahami dasar Ilmu Nahwu secara praktis.
  • Pembelajar bahasa Arab yang ingin mulai memahami struktur kalimat Arab dengan benar.
  • Peserta yang ingin memiliki fondasi sebelum mempelajari kitab-kitab berbahasa Arab.

Kelas ini mencakup:

  • Video rekaman kelas (akses seumur hidup di dashboard peserta)
  • Sertifikat
  • Kitab (PDF) materi ajar
  • النحو في سبعة أيام 641.4 KB
  • Nahwu dalam 7 hari (Versi Terjemahan) 1.4 MB
  • Muqaddimah Video · 5:08
  • Bab ini membahas pola dasar penyusunan kalimat dalam bahasa Arab (kalam al-'arab) yang terbagi ke dalam dua bentuk struktur utama. Pembahasan diawali dengan mengenalkan karakteristik kalimat yang dimulai dengan kata benda (isim) serta kalimat yang diawali dengan kata kerja (fi'il). Melalui pendekatan yang sistematis, materi ini memandu peserta untuk memahami bagaimana pikiran dan informasi disampaikan secara tepat sesuai susunan tata bahasa Arab.
    Secara lebih rinci, peserta akan mempelajari struktur jumlah ismiyyah beserta unsur pembentuknya, yaitu mubtada' dan khabar, sebagaimana dicontohkan pada kalimat: زَيْدٌ كَرِيْمٌ. Selanjutnya, materi mengulas struktur jumlah fi'liyyah yang terdiri atas fi'il dan fa'il, seperti pada contoh: قَامَ زَيْدٌ. Pemahaman terhadap kedua struktur dasar ini memberikan fondasi yang kuat bagi peserta dalam menganalisis susunan kalimat, mengenali peran setiap kata, serta menyusun kalimat bahasa Arab secara benar dan tertata.
  • Bab ini membahas tentang kondisi dan aturan perubahan hukum asal (Ahwal al-Jumlatain) pada jumlah ismiyyah. Pada dasarnya, unsur mubtada' dan khabar dalam jumlah ismiyyah berada dalam kondisi marfu' selama tidak ada faktor luar yang memengaruhinya. Materi ini memberikan gambaran komprehensif mengenai bagaimana status tata bahasa (i'rab) dari kedua unsur tersebut dapat berubah ketika dimasuki oleh kata-kata pemengaruh (nawasikh) maupun huruf jar.
    Secara lebih rinci, peserta akan mempelajari pengaruh masuknya Inna (إن) dan saudaranya yang menasabkan mubtada', Kaana (كَانَ) dan saudaranya yang menasabkan khabar, serta Zhanna (ظَنَّ) dan Shayyara (صَيَّرَ) beserta saudaranya yang menasabkan kedua bagian kalimat tersebut sekaligus. Selain itu, materi ini mengulas dampak masuknya huruf jar terhadap mubtada' atau khabar, serta ditutup dengan penjelasan mendasar mengenai tanda i'rab berupa rafa' (dhammah), nasab (fathah), dan jar (kasrah). Pemahaman terhadap aturan ini sangat bermanfaat dalam melatih ketelitian peserta ketika membaca teks gundul serta menganalisis perubahan harakat akhir kata dalam kalimat bahasa Arab.
  • Kuis Pertemuan Pertama Kuis · 10 Soal
  • Materi ini memberikan pemahaman dasar mengenai struktur kalimat verbal atau al-jumlah al-fi'liyyah dalam tata bahasa Arab. Pembahasan diawali dengan mengenalkan hakikat jumlah fi'liyyah sebagai kalimat yang diawali oleh kata kerja (fi'il), serta penjelasannya berdasarkan dimensi waktu terjadinya perbuatan. Melalui pendekatan yang sistematis, materi ini memandu peserta untuk mengenali pola-pola dasar penyusunan kalimat yang diawali oleh fi'il madhi (waktu lampau), fi'il mudhari' (waktu sekarang atau yang akan datang), serta fi'il amr (kata kerja perintah).
    Secara lebih terperinci, materi ini membedah karakteristik dan hukum harakat akhir (I'rab dan Bina') dari ketiga jenis kata kerja tersebut. Peserta mempelajari bahwa fi'il madhi selalu berharakat akhir fathah (seperti pada kata قَامَ، ذَهَب dan قَرَأَ), fi'il amr dibangun di atas keadaan sukun (seperti pada قُمْ dan اِذْهَبْ), sedangkan fi'il mudhari' pada umumnya berada dalam kondisi marfu' (berharakat dhammah) kecuali jika didahului oleh huruf penashab (أَنْ, لَنْ) yang mengubah harakatnya menjadi fathah atau huruf penjazam (إِنْ, لَم) yang menjadikannya sukun. Pemahaman terhadap bab ini memberikan fondasi yang kuat bagi peserta dalam menguasai struktur dasar kalimat Arab, membedakan konteks waktu dalam teks, serta melatih ketelitian membaca harakat akhir pada kata kerja.
  • Materi ini membahas dua kelompok kata benda berharakat nashab (al-asma' al-manshubah) yang berfungsi memberikan keterangan tambahan dalam suatu kalimat, yaitu Hal dan Tamyiz. Pembahasan diawali dengan mengenalkan hakikat kedua konsep tersebut sebagai isim manshub yang terletak setelah kalimat sempurna untuk memberikan kejelasan makna. Melalui pemaparan materi ini, peserta dibimbing untuk membedakan fungsi spesifik dari masing-masing konsep agar tidak tertukar dalam analisis tata bahasa.
    Secara lebih terperinci, materi ini menjelaskan perbedaan mendasar antara Hal dan Tamyiz berdasarkan fungsi utamanya. Hal berfungsi menjelaskan keadaan atau kondisi pembuat/penerima perbuatan (hai'ah) yang sudah jelas jenis perbuatannya, seperti pada kata مُسْرِعًا dalam kalimat “زَيْدٌ مُقْبِلٌ مُسْرِعًا”. Sementara itu, Tamyiz berfungsi menghilangkan samar atau ketidakjelasan dari suatu makna yang masih bersifat umum, seperti pada kata عَرَقًا dalam kalimat “زَيْدٌ مُتَصَيِّبٌ عَرَقًا”. Pemahaman terhadap bagian ini membantu peserta mengenali fungsi keterangan keadaan dan penjelas samar dalam struktur kalimat bahasa Arab secara akurat.
  • Materi ini mengulas kaidah pengecualian (istitsna') dalam bahasa Arab menggunakan perangkat utama illa. Pembahasan diawali dengan mengenalkan pola kedudukan kata setelah illa, yang hukum I'rab-nya sangat bergantung pada kelengkapan struktur kalimat—apakah bersifat sempurna (tamm) atau belum sempurna (naqish)—serta keberadaan tanda negatif, larangan, atau pertanyaan di awal kalimat. Melalui pendekatan yang sistematis, materi ini membimbing peserta untuk memahami landasan perubahan harakat pada kata yang dikecualikan secara lebih intuitif.
    Secara lebih terperinci, materi ini membedah tiga kondisi utama penulisan kata setelah illa. Apabila kalimat sebelum illa belum sempurna (al-istitsna' an-naqish), maka illa tidak memberikan pengaruh nashab dan kata setelahnya di-i'rab sesuai posisi kedudukannya dalam kalimat, seperti menjadi khabar atau fa'il. Namun, jika kalimatnya sudah sempurna dan bersifat positif (al-istitsna' at-tamm al-mujāb), kata setelah illa wajib dibaca manshub (seperti pada kalimat: جَاءَ القَوْمُ إِلَّا زَيْدًا). Sementara itu, jika kalimat yang sempurna didahului oleh negasi atau pertanyaan (al-istitsna' at-tamm al-manfi), maka kata setelah illa memiliki kelonggaran untuk dibaca manshub sebagai mustatsna atau mengikuti harakat kata sebelumnya sebagai badal. Pemahaman terhadap bab ini memberikan ketelitian bagi peserta dalam menganalisis kalimat pengecualian serta menentukan harakat akhir kata secara tepat sesuai konteksnya.
  • Kuis Pertemuan Kedua Kuis · 10 Soal
  • Materi pada bab ini berfokus pada pembahasan kelompok isim manshub yang berfungsi sebagai pelengkap kalimat (fadhlah). Pembahasan diawali dengan penegasan posisi isim yang terletak setelah susunan jumlah fi’liyyah. Apabila isim tersebut tidak satu makna dengan subjek sebagai pengikut (taabi'), maka kedudukannya dikategorikan sebagai maf'ul yang seluruh kategorinya berstatus nasab (manshub). Bab ini menyajikan pemetaan logis mengenai lima jenis maf'ul berdasarkan hubungan fungsinya terhadap peristiwa atau perbuatan yang terjadi dalam kalimat.
    Pada bagian rincian materi, bab ini membedah kelima jenis maf'ul beserta konteks penggunaannya. Pertama, Maf'ul Bihi apabila perbuatan tersebut menimpa objek secara langsung, seperti pada contoh: ضَرَبَ زَيْدٌ غُلَامَهُ. Kedua, Maf'ul Fiihi atau Zharaf apabila perbuatan terjadi pada waktu atau tempat tertentu, seperti contoh: جِئْتُ مَسَاءً (zharaf zaman) dan جَلَسْتُ خَارِجَ الدَّارِ (zharaf makan). Ketiga, Maf'ul Li-ajlihi apabila isim tidak dijatuhi perbuatan melainkan menjelaskan alasan atau latar belakang terjadinya perbuatan, seperti contoh: زُرْتُكَ إِكْرَامًا لَكَ. Keempat, Maf'ul Ma'ahu apabila objek digandengkan dengan huruf wawu ma’iyyah namun tidak bersekutu melakukan perbuatan bersama fa’il, seperti contoh: سَارَ زَيدٌ وَالجِدَارَ. Kelima, Maf'ul Muthlaq apabila isim tersebut memiliki kesesuaian susunan huruf dengan fi’il sebelumnya sebagai penegas atau penjelas perbuatan, seperti contoh: ضَرَبْتُ زَيْدٌ ضَرْبًا. Melalui pemahaman kelima fungsi maf'ul ini, peserta dapat menyusun dan menganalisis struktur kalimat berobjek dalam bahasa Arab secara rinci dan teratur.
  • Materi pada bab ini berfokus pada pembahasan susunan penyandaran dua kata benda (Al-Idhafah), yang terdiri dari unsur mudhaf (kata yang disandarkan) dan mudhaf ilaih (kata yang menjadi sandaran). Pembahasan diawali dengan penanaman pemahaman bahwa penyandaran kata ini memberikan tambahan makna khusus pada jumlah ismiyyah. Bab ini menyajikan dua indikasi fungsi makna (isyarat) dari struktur idhafah, yaitu penunjukan makna kepemilikan seperti pada contoh: هَذَا كِتَابُ زَيْدٍ yang bermakna Zaid memiliki buku tersebut, serta penunjukan makna pengkhususan seperti pada contoh: هَذَا بَابُ الدَّارِ yang menunjukkan bahwa pintu tersebut khusus untuk rumah itu. Selain kedua makna tersebut, idhafah juga dapat mengandung fungsi makna lainnya yang hanya dikhususkan untuk Allah yaitu untuk menunjukkan kepemilikan mudhaf-nya, sebagaimana pada: اللهُ رَبُّ العَالَمِيْنَ.
    Pada bagian kaidah, modul ini merinci dua hukum utama yang wajib diterapkan dalam susunan idhafah. Hukum pertama berlaku bagi unsur mudhaf, yaitu kewajiban membuang tanwin secara mutlak. Sebagai contoh, kata كِتَابٌ yang memiliki tanwin berubah menjadi كِتَابُ (hanya berharakat dhammah tunggal) ketika disandarkan, maka menjadi: كِتَابُ زَيْدٍ. Hukum kedua berlaku bagi unsur mudhaf ilaih, yaitu kewajiban beri’rab jar secara mutlak, sehingga kata زَيْدٌ berubah menjadi زَيْدٍ ketika berposisi sebagai kata yang disandari. Melalui pemahaman konsep makna dan dua hukum mendasar ini, peserta dapat menyusun serta mengenali struktur penyandaran kata (idhafah) dalam bahasa Arab secara tepat sesuai kaidah Nahwu.
  • Materi pada bab ini berfokus pada pengenalan dasar kata benda yang tidak menerima tanwin dan kasrah, yaitu “Al-Mamnu' min ash-Sarf”. Pembahasan diawali dengan penegasan kembali kaidah asal kata benda berstatus jar, yang secara umum ditandai dengan harakat kasrah sebagaimana pada contoh: مَرَرْتُ بِزَيْدٍ. Bab ini memberikan pemetaan konseptual mendasar mengenai alasan suatu kata benda terhalang dari menerima tanwin dan kasrah, yaitu karena isim tersebut memiliki kemiripan sifat dengan fi’il. Sebagaimana diketahui bahwa fi’il pada dasarnya tidak pernah bertanwin maupun berharakat kasrah, maka isim yang menyerupainya pun mengambil hukum serupa.
    Pada bagian kaidah, bab ini merinci konsekuensi hukum i’rab bagi al-mamnu' min ash-sarf saat berposisi jar. Isim yang termasuk kategori ini tidak dapat bertanwin dan tanda jar-nya digantikan oleh harakat fathah sebagai pengganti kasrah, sebagaimana dicontohkan pada lafaz أَحْمَدُ. Ketika dimasuki huruf jar, kalimatnya dibaca مَرَرْتُ بِأَحْمَدَ (menggunakan fathah tunggal, bukan kasrah atau tanwin). Melalui pemahaman poin pertama ini, peserta dapat mengidentifikasi serta membaca kata benda yang tergolong mamnu' min ash-sarf secara tepat sesuai kaidah Nahwu.
  • Kuis Pertemuan Ketiga Kuis · 10 Soal
  • Materi pada bab ini berfokus pada pembahasan pola kata أقضل dan sejenisnya dalam kerangka Uslub at-Tafdhil (komparasi/komparatif) dalam sintaksis bahasa Arab. Pembahasan diawali dengan penanaman konsep dasar bahwa apabila isim berwazan أفضل diletakkan di antara dua kata benda, maknanya menunjukkan bahwa kata benda pertama memiliki keunggulan atau tingkatan lebih dibanding kata benda kedua, sebagaimana contoh: زَيْدٌ أَفْضَلُ مِنْ عَمْرٍو. Pemahaman pola struktur ini penting agar pembelajar mampu membedakan konstruksi perbandingan secara presisi serta memahami fleksibilitas penggunaannya dalam wacana tulisan maupun lisan.
    Pada bagian rincian materi, bab ini memberikan penekanan khusus pada batasan pemaknaan dan variasi lafaz dalam Uslub at-Tafdhil. Pemateri menjelaskan bahwa pola komparasi ini tidak terbatas pada hal-hal yang bernilai positif (al-amuur al-faadhilah), melainkan dapat pula digunakan untuk menyatakan kelemahan atau keburukan, seperti pada contoh: عَمْرٌو أَضْعَفُ مِنْ بَكْرٍ. Lebih lanjut, bab ini menegaskan bahwa struktur perbandingan tidak terpaku pada lafaz أفضل dan أضعف saja, melainkan mencakup berbagai pilihan lafaz lain yang sejenis—seperti أحسن, أوسع, أكبر, أصغر, dan lafaz lain yang disesuaikan dengan maksud penutur (mutakallim). Melalui penelaahan materi ini, peserta dapat menguasai variasi penggunaan isim tafdhil secara komprehensif dan menerapkannya dalam penulisan kalimat yang komunikatif serta berstandar akademis.
  • Materi pada ban ini berfokus pada bab At-Tawaabi' (kata-kata yang status i'rab-nya mengikuti kata sebelumnya) dalam sintaksis bahasa Arab. Pembahasan diawali dengan penanaman konsep dasar bahwa taabi' adalah kata yang berfungsi sebagai pengikut, sebingga harakat akhirnya bergantung pada i'rab kata yang diikutinya (matbu'), baik dalam kondisi rafa', nashab, maupun jar. Pemahaman mengenai kelompok tawaabi' ini sangat krusial agar pembelajar dapat membaca, menganalisis struktur kalimat secara presisi, serta terhindar dari kesalahan penentuan harakat akhir pada kalimat-kalimat yang kompleks.
    Pada bagian rincian materi, bab ini membedah secara sistematis empat jenis tawaabi' melalui contoh-contoh praktis. Pertama, pembahasan mencakup as-shifah (kata sifat/na'at) seperti pada contoh: جَاءَ زَيْدٌ الكَرِيْمُ, di mana sifat mengikuti maushuf-nya. Kedua, dibahas al-ma'thuuf (kata yang dihubungkan dengan huruf athaf) seperti: جَاءَ زَيْدٌ وَعَمْرٌو. Ketiga, dijelaskan at-taukiid (penegas) baik menggunakan lafaz النفس, العين, كل, جميع', hingga كلا atau كلتا untuk menegaskan subjek. Keempat, modul ini mengulas al-badal (kata pengganti) seperti pada contoh: جَاءَ أَبُوا حَفْصٍ عُمَرُ. Sebagai penutup, bab ini menyimpulkan bahwa keempat unsur tersebut dinamakan tawaabi' karena kesemuanya menjadi pengikut hukum i’rab pada kata sebelumnya.
  • Kuis Pertemuan Keempat Kuis · 10 Soal

Lisanul Arab

Preview Sertifikat