Kitab Al-Basith Fii Ash-Shorfi
Kelas Selesai

Kitab Al-Basith Fii Ash-Shorfi

Ustadz Zaky Karami, B.A.
Ustadz Zaky Karami, B.A.
Magister Fakultas Ilmu Bahasa, King Saud University - Riyadh. Pengajar & Penasehat Akademik Lisanul Arab.
Pengantar: Bahasa Indonesia
206 Peserta 23 Pelajaran Sertifikat Modul Kelas (PDF)
Pemula Shorof 3 Agustus 2026

Kelas Ilmu Sharaf ini dirancang untuk membantu peserta memahami dasar-dasar ilmu Sharaf secara sistematis, terstruktur, dan mudah dipahami, khususnya bagi para pembelajar pemula. Materi pembelajaran disusun secara bertahap agar peserta mampu mengenali pola perubahan kata dalam bahasa Arab sekaligus memahami fungsi dan karakteristiknya dalam penggunaan sehari-hari maupun dalam literatur Arab klasik.

Melalui kelas ini, peserta akan mempelajari berbagai pembahasan penting dalam Ilmu Sharaf, mulai dari pengenalan jenis-jenis kata dalam bahasa Arab, pembahasan khusus seputar isim dan fi‘il, hingga kaidah-kaidah perubahan bentuk kata seperti i‘lal dan ibdal. Setiap materi dilengkapi dengan latihan penerapan sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikannya secara langsung.

Kelas ini diharapkan dapat menjadi fondasi penting bagi siapa pun yang ingin memperdalam kemampuan bahasa Arab, memahami struktur kata dengan lebih baik, serta merasakan keindahan dan keistimewaan susunan bahasa Arab secara lebih mendalam.

Yang akan Anda pelajari

  • Mengenal dasar-dasar Ilmu Sharaf dan urgensinya dalam pembelajaran bahasa Arab.
  • Memahami macam-macam kata dalam bahasa Arab beserta karakteristiknya.
  • Mengenal pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan isim dan fi‘il.
  • Memahami pembahasan khusus dalam bab isim dan bab fi‘il.
  • Memahami kaidah i‘lal dan ibdal dalam perubahan bentuk kata bahasa Arab.
  • Mengaplikasikan materi pembelajaran melalui latihan-latihan yang tersedia.
  • Memahami keindahan pola dan susunan kata dalam bahasa Arab.
  • Al-Mizan Ash-Sharfi (الميزان الصرفي).
  • Bab Al-Af‘al (باب الأفعال).
  • Bab Al-Asma’ (باب الأسماء).
  • Al-I‘lal wal-Ibdal (الإعلال والإبدال).

Untuk siapa kelas ini?

  • Pelajar pemula yang ingin mulai mempelajari Ilmu Sharaf secara sistematis.
  • Santri dan mahasiswa yang ingin memperkuat dasar bahasa Arab.
  • Pembelajar bahasa Arab yang ingin memahami pola perubahan kata secara lebih mendalam.
  • Peserta yang ingin mempersiapkan diri untuk mempelajari kitab-kitab berbahasa Arab dengan lebih baik.

Kelas ini mencakup:

  • Video rekaman kelas (akses seumur hidup di dashboard peserta)
  • Sertifikat
  • Kitab (PDF) materi ajar
  • البسيط في الصرف 2.2 MB
  • Sesi pembuka ini menyampaikan arahan orientasi dan metode pembelajaran yang akan diterapkan sepanjang berjalannya kelas. Pembelajaran dirancang secara interaktif melalui kombinasi pemaparan materi, pembacaan kitab, dan diskusi agar proses belajar tetap dinamis. Pada sesi ini, pengajar menekankan bahwa keberhasilan dalam menguasai materi sangat bergantung pada komitmen peserta untuk meluangkan waktu secara mandiri di luar jam kelas, mengingat bimbingan di dalam kelas hanya menjadi bagian awal dari proses pemahaman. Peserta didorong untuk aktif terlibat, baik dalam menjawab pertanyaan, mengajukan kekeliruan saat berlatih membaca kitab, maupun mengajukan pertanyaan langsung tanpa ragu.
    Selain itu, materi ini memperkenalkan metode pembelajaran mandiri berupa penyampaian faedah atau ulasan materi secara berkala menggunakan bahasa sendiri pada setiap awal pertemuan. Metode ini bertujuan untuk memperkuat retensi hafalan serta membantu sesama peserta dalam memahami poin-poin penting pelajaran. Sebagai penutup muqaddimah, disampaikan kaidah penting mengenai keteguhan dalam belajar (istiqamah), di mana peserta dianjurkan untuk terus mengikuti kelas hingga akhir program tanpa menyerah di tengah jalan. Pemahaman terhadap arahan awal ini memberikan landasan mental dan kesiapan belajar yang kokoh bagi peserta dalam menjalani seluruh rangkaian proses keilmuan.
  • Pertemuan ini melanjutkan sesi muqaddimah dengan berfokus pada pengenalan kitab panduan utama serta penanaman pemahaman dasar mengenai ilmu Sharaf. Pembahasan diawali dengan mengulas kitab “Al-Basith fii Ash-Shorfi karya Dr. Abdurrazzaq Ali Ahmad Al-Malahi salah seorang pengajar ma'had di Italia. Penamaan Al-Basiith yang bermakna "yang mudah" memberikan pendekatan psikologis bagi peserta agar lebih optimis dalam mempelajari tata bahasa Arab. Pemilihan kitab ini didasari oleh penyajian bahasanya yang lugas, tatanan visual berwarna yang nyaman dibaca, ringkasnya cakupan materi dalam 59 halaman (termasuk sampul, daftar isi dsb), serta kelengkapan latihan soal beserta faedah tambahan dari penulis pada setiap babnya.
    Secara lebih terperinci, pada sesi ini pemateri membedah kedudukan ilmu Sharaf melalui gambaran mendasar mengenai batasannya serta perbedaannya dengan ilmu Nahwu. Peserta juga diajarkan tentang keterkaitan erat antara ilmu Sharaf dengan cabang ilmu bahasa Arab lainnya, yaitu Imla' dan Balaghah. Pada cabang Imla', keterkaitan tersebut terlihat dari perubahan penulisan huruf yang mengikuti perubahan bentuk kata. Sementara pada ilmu Balaghah, keterkaitannya terletak pada syarat “fashahatul kalimah”, di mana sebuah kalimat dianggap memenuhi kaidah keindahan bahasa apabila terhindar dari kesalahan “mukhalafatul qiyas ash-sharfi” (penyimpangan dari kaidah sharaf standar). Pemahaman terhadap bab ini memberikan pemetaan konseptual yang jernih bagi peserta mengenai keterkaitan antar cabang ilmu kebahasaan sebelum melangkah ke pembahasan teknis.
  • Pertemuan kedua ini masih menjadi bagian dari pengantar sebelum masuk pada pembahasan teks kitab secara langsung. Sesi ini berfokus pada pemetaan historis mengenai metodologi para ulama dalam menyusun dan mempelajari ilmu Sharaf (manhajiyyah dirāsah 'ilm ash-sharf). Pengajar membimbing peserta untuk memahami bahwa sistematika penulisan ilmu Sharaf secara umum terbagi menjadi dua pendekatan utama, yaitu metode penggabungan (al-jam') antara ilmu Nahwu dan Sharaf dalam satu karya, serta metode pemisahan (al-ifrad) yang menjadikan Sharaf sebagai disiplin ilmu tersendiri.
    Secara lebih terperinci, materi ini membedah contoh karya-karya monumental dari kedua metodologi tersebut. Pada metode penggabungan, bahasan mengenalkan kitab-kitab klasik seperti Al-Kitab karya Sibawaih, Al-Muqtadhab karya Al-Mubarrad, Al-Mufashshal karya Az-Zamakhsyari, hingga karya Ibnu Malik (Al-Alfiyyah dan At-Tashil) serta Ibnu Hisyam (Audhah al-Masalik). Sementara pada metode pemisahan, peserta diajak mengenali karya khusus Sharaf seperti At-Tashrif karya Al-Mazini, Al-Munshif dan At-Tashrif al-Muluki karya Ibnu Jinni, Asy-Syafiyah karya Ibnul Hajib, hingga karya-karya era kontemporer seperti Syadza al-'Arf fi Fann ash-Sharf karya Ahmad Al-Hamalawi. Pemahaman terhadap bab ini memberikan wawasan bibliografis dan peta keilmuan yang jelas bagi peserta dalam menelusuri literatur tata bahasa Arab secara bersistem.
  • Muqaddimah Penulis Video · 19:38
  • Pengertian Tashrif dan Wazan Tashrif Video · 43:28
  • Kaidah Tashrif Video · 1:06:56
  • Pertemuan 5 Video · 1:09:27
  • Pertemuan 6 Video · 1:01:50
  • Materi pada bab ini berfokus pada klasifikasi kata kerja berdasarkan karakter huruf penyusunnya, yaitu pembagian kata kerja dari sisi Shihhah (bebas dari huruf 'illat) dan I'tilal (mengandung huruf 'illat). Pembahasan diawali dengan penanaman batasan mendasar antara fi'il shahih—yakni kata kerja yang seluruh huruf aslinya terbebas dari alif, wau, dan ya—dengan fi'il mu'tal yang mengandung huruf 'illat. Bab ini memberikan gambaran umum pembagian fi'il shahih ke dalam tiga kelompok (salim, mahmuz, dan mudha'af) serta fi'il mu'tal ke dalam empat kelompok (mitsal, ajwaf, naqish, dan lafif).
    Pada bagian rincian materi, bab ini membedah secara spesifik kategori pertama, yaitu pembagian dan definisi fi'il shahih beserta contoh-contohnya. Pembahasan mencakup salim sebagai kata kerja yang terbebas dari hamzah maupun konsonan ganda (seperti kata سَمِعَ), mahmuz sebagai kata kerja yang mengandung huruf hamzah baik di awal, tengah, maupun akhir (seperti kata أَخَذَ, سَأَلَ, dan قَرَأَ), serta mudha'af sebagai kata kerja yang mengalami penggandaan pada konsonan sekundernya (seperti kata مَدَّ). Melalui pemahaman definisi dan contoh konkrit ini, peserta dapat mengidentifikasi jenis fi'il shahih secara tepat sebelum melangkah ke pembahasan fi'il mu'tal pada bab berikutnya.
  • Materi pada bab ini berfokus pada kelanjutan pembahasan klasifikasi kata kerja berdasarkan huruf penyusunnya, khususnya mengenai rincian dan pembagian fi'il mu'tal (kata kerja yang mengandung huruf 'illat: alif, wau, atau ya). Pembahasan diawali dengan penegakan kembali batasan fi'il mu'tal serta pengelompokannya berdasarkan posisi keberadaan huruf 'illat pada akar kata. Bab ini menyajikan pemetaan terstruktur menjadi empat kategori utama, yaitu mitsal, ajwaf, naqish, dan lafif, lengkap dengan batasan definisi serta contoh penerapannya dalam kata kerja bahasa Arab.
    Pada bagian rincian materi, modul ini membedah setiap kategori secara terpisah. Pertama, mitsal diartikan sebagai kata kerja yang huruf 'illat-nya berada di awal kata, baik berupa wau maupun ya (seperti وَعَدَ dan يَسَرَ). Kedua, ajwaf merujuk pada kata kerja yang huruf 'illat-nya terletak di tengah kata, baik asal hurufnya wawu maupun ya (seperti قَالَ dan بَاعَ). Ketiga, naqish merupakan kata kerja dengan huruf 'illat di akhir kata (seperti بَذُوَ, رَضِيَ, دَعَا, dan بَكَى). Keempat, lafif didefinisikan sebagai kata kerja yang memiliki dua huruf 'illat sekaligus, yang kemudian diklasifikasikan lagi menjadi dua jenis: lafif mafruq jika kedua huruf 'illat-nya dipisahkan oleh huruf shahih (seperti وَعَى dan وَلِيَ) serta lafif maqrun jika kedua huruf 'illat-nya terletak berdampingan (seperti هَوَى dan هَوِيَ). Melalui penguasaan rincian kategori ini, peserta dapat memetakan struktur fi'il mu'tal secara akurat sebagai landasan penting dalam menguasai kaidah i'lal dan perubahan kata pada pembahasan Sharaf selanjutnya.
  • Materi pada bab ini berfokus pada kaidah penyandaran kata kerja kepada kata ganti, baik pada fi'il shahih maupun yang mengandung huruf illat (fi'il mu'tal). Pembahasan diawali dengan pengenalan konsep penyandaran fi'il kepada kata benda tampak (isim dzahir) serta enam jenis kata ganti subjek bersambung (dhamir rafa' muttashil). Bab ini memberikan pemetaan sistematis mengenai pola penggabungan kata kerja berdasarkan bentuk waktunya. Kata kerja bentuk lampau (fi'il madhi) disandarkan kepada lima jenis kata ganti, yaitu ta' al-fa'il, na al-fa'iliin, nun an-niswah, alif al-itsnain, dan wawu al-jama'ah. Sementara itu, kata kerja bentuk sedang/akan datang (fi'il mudhari') dan kata kerja perintah (fi'il amr) disandarkan kepada empat jenis kata ganti, yaitu nun an-niswah, alif al-itsnain, wawu al-jama'ah, dan ya' al-mukhathabah.
    Pada bagian berikutnya, modul ini membahas secara khusus perubahan morfologis yang terjadi pada fi'il shahih saat mengalami proses penyandaran. Pada dasarnya, fi'il shahih tidak mengalami perubahan bentuk, kecuali pada jenis kata kerja dengan huruf ganda (fi'il mudha'af), baik dalam bentuk madhi, mudhari', maupun amr. Pembahasan merinci kaidah penguraian konsonan ganda (fakk at-tadh'if) yang wajib dilakukan ketika fi'il mudha'af bersambung dengan dzamir rafa' mutaharrik—yaitu ta' al-fa'il, na al-fa'iliin, dan nun an-niswah—seperti pada perubahan kata مَدَّ menjadi مَدَدْتُ, مَدَدْنَا, dan مَدَدْنَ. Sebaliknya, penguraian tadh'if tidak terjadi apabila fi'il bersambung dengan dhamir sukun. Melalui pemahaman kaidah penyandaran dan perubahan struktur ini, peserta dapat membentuk serta mendeteksi perubahan kata kerja secara akurat sesuai dengan subjek kalimatnya.
  • Materi pada bab ini merupakan lanjutan pembahasan perubahan morfologis, yaitu perubahan yang terjadi fi’il mu'tal saat disandarkan kepada dhamir. Pembahasan diawali dengan pemetaan dasar bahwa jenis fi'il mitsal tidak mengalami perubahan bentuk saat disandarkan kepada dhamir, baik dalam bentuk madhi, mudhari', maupun amr karena huruf yang berada di awal kata tidak mungkin mengalami perubahan. Sebaliknya, perubahan bentuk terjadi pada tiga jenis lainnya, yaitu ajwaf, naqish, dan lafif. Bab ini menyajikan aturan khusus untuk fi'il ajwaf (kata kerja dengan huruf 'illat di tengah), di mana huruf 'illat alif di tengah kata wajib dibuang apabila disandarkan kepada dhamir rafa' mutaharrik (ta' al-fa'il, na al-fa'iliin, dan nun an-niswah), seperti pada perubahan kata قَالَ menjadi قُلْتُ, قُلْنَ, dan قُلْنَا, serta kata سَارَ menjadi سِرْتُ, سِرْنَ, dan سِرْنَا.
    Pada bagian berikutnya, bab ini merinci kaidah perubahan pada jenis fi'il naqish (kata kerja dengan huruf 'illat di akhir) khusus untuk bentuk lampau (madhi). Pertama, jika huruf 'illat-nya berupa wawu atau ya, maka bentuknya tidak berubah kecuali saat bersambung dengan wawu al-jama'ah yang mengharuskan penghapusan huruf 'illat dan pembacaan dhammah pada huruf sebelumnya, seperti pada contoh رَضِيَ menjadi رَضُوْا. Kedua, jika huruf 'illat-nya berupa alif dan bersambung dengan wawu al-jama'ah, maka alif tersebut dibuang baik pada fi'il berakar tiga huruf maupun lebih, seperti pada contoh: دَعَوْا, بَكَوْا, أَلْقَوْا, اهْتَدَوْا, dan اسْتَعْلَوْا. Sementara itu, jika fi'il naqish berujung alif bersambung dengan dhamir mutaharrik atau alif al-itsnain, alif akan dikembalikan ke asal harakatnya (wawu atau ya) jika terdiri dari tiga huruf—seperti دَعَوْتُ dan بَكَيْتُ—atau diubah menjadi huruf ya’ secara mutlak jika lebih dari tiga huruf—seperti أَلْقَيْتُ dan اسْتَعْلَوْا. Melalui penguasaan kaidah ini, peserta dapat membina dan mengidentifikasi perubahan kata kerja mu'tal secara presisi.
  • P10 SHOROF Video · 1:28:12
  • Materi pada bab ini berfokus pada analisis pola penyesuaian harakat (tasrif) kata kerja tiga huruf (fi'il tsulatsi mujarrad) dari bentuk lampau (madhi) ke bentuk sedang/akan datang (mudhari'). Pembahasan diawali dengan penanaman kaidah dasar bahwa posisi fa' kalimah dan lam kalimah pada fi'il madhi maupun mudhari' memiliki pola harakat asal yang tetap, sehingga fokus utama penentuan bab tasrif terletak pada perubahan harakat 'ain kalimah-nya ('ainul fi'il).
    Pada bagian rincian materi, bab ini membedah faktor-faktor pemicu (jawalib) yang menentukan harakat 'ain kalimah pada fi'il mudhari'. Pola فَعُلَ - يَفْعُلُ berlaku konstan untuk kata kerja yang menunjukkan sifat menetap seperti pada kata كَرُمَ - يَكْرُمُ. Sementara itu, pola فَعِلَ - يَفْعَلُ/يَفْعِلُ secara kaidah umum (qiyas) berpasangan dengan يَفْعَلُ—terutama pada kata kerja yang menyatakan warna atau sifat sementara (al-a'radh)—namun memiliki pengecualian (syadz) menjadi يَفْعِلُ pada beberapa kata kerja tertentu, atau dapat dibaca dengan kedua bentuk tersebut yang jumlahnya terbatas hanya 12 kata seperti pada حَسِبَ - يَحْسَبُ/يَحْسِبُ.
    Selanjutnya, pola فَعَلَ - يَفْعِلُ memiliki empat faktor pemicu kasrah, yaitu apabila fa' kalimah berupa wau wawu lam-nya bukan huruf halqiyyah, apabila lam atau 'ain kalimah berupa ya’ seperti pada: بَكَى - يَبْكِي, atau tergolong fi'il mudha'af lazim seperti pada دَبَّ - يَدِبُّ. Adapun pola فَعَلَ - يَفْعُلُ memiliki tiga faktor pemicu dhammah, yaitu apabila 'ain atau lam kalimah berupa wawu seperti pada قَالَ - يَقُوْلُ, digunakan untuk konteks mengungguli atau menang dalam membanggakan diri, serta tergolong fi'il mudha'af muta'addi seperti pada سَبَّ - يَسُبُّ. Terakhir, pola فَعَلَ - يَفْعَلُ berlaku khusus apabila 'ain atau lam kalimah-nya terdiri dari huruf halqiyyah dan tidak terpengaruh oleh faktor pemicu kasrah maupun dhammah seperti pada kata سَأَلَ - يَسْاَلُ. Melalui pemetaan faktor pemicu harakat ini, peserta dapat memprediksi dan membentuk pola tasrif fi'il tsulatsi mujarrad secara terukur dan rasional.
  • Tashrif Fi’il Mudhari’ pada Fi’il Tsulatsi Mujarrad (lanjutan) Video · 1:13:25
  • P13 SHOROF Video · 1:14:05
  • Mashdar Marrah, Mashdar Haiah, Mashdar Shorih, Mashdar Muawwal Video · 1:07:54
  • Pengantar Al-Musytaqqat Video · 1:14:04
  • Shifah Musyabbahah, Isim Tafdhil, Isim Zaman, Isim Makan & Isim Alat Video · 1:48:38
  • Isim Tashgir Video · 50:37
  • I’lal dan Ibdal Video · 1:50:23
  • Penisbatan Video · 47:01
  • Lanjutan Pembahasan Penisbatan & Penutup Video · 57:45

Lisanul Arab

Preview Sertifikat