Kitab Al-Imla’ Al-Muyassar
Kelas Selesai

Kitab Al-Imla’ Al-Muyassar

Ustadz Ahmad Ubaidillah, B.A.
Ustadz Ahmad Ubaidillah, B.A.
Alumnus Darul Hadits Yaman dan Fakultas Syariah LIPIA. Direktur & Pengajar KUBA.
Pengantar: Bahasa Indonesia
205 Peserta 16 Pelajaran Sertifikat Modul Kelas (PDF)
Pemula Imla' 24 Juli 2026

Kelas Ilmu Imla’ ini dirancang untuk membahas kaidah dasar penulisan bahasa Arab secara sistematis, aplikatif, dan mudah dipahami oleh para pembelajar pemula. Fokus pembelajaran diarahkan pada pemahaman tata cara penulisan huruf dan kata dalam bahasa Arab sesuai dengan kaidah imla’ yang benar, disertai contoh-contoh praktis serta latihan penerapan.

Materi yang dikaji mencakup berbagai pembahasan penting dalam ilmu imla’, seperti alif-lam syamsiyah dan qamariyah, ta’ marbuthah dan ta’ maftuhah, hamzah washal dan hamzah qatha’, hingga kaidah penulisan hamzah di tengah dan akhir kata.

Kelas ini diharapkan dapat membantu peserta memperbaiki kemampuan menulis bahasa Arab secara tepat sekaligus memahami alasan di balik bentuk penulisan kata-kata Arab tertentu. Selain itu, kelas ini juga dapat menjadi fondasi penting sebelum memasuki pembelajaran kitab-kitab Arab, penulisan catatan berbahasa Arab, maupun penyusunan teks Arab sederhana.

Yang akan Anda pelajari

  • Pengantar dasar Ilmu Imla’ dan urgensinya dalam pembelajaran bahasa Arab.
  • Memahami dan membedakan alif-lam syamsiyah dan alif-lam qamariyah.
  • Memahami penggunaan ta’ marbuthah dan ta’ maftuhah dalam penulisan kata bahasa Arab.
  • Mengenali perbedaan hamzah washal dan hamzah qatha’ beserta kaidah penulisannya.
  • Memahami kaidah penulisan hamzah di awal, tengah, dan akhir kata.
  • Mempraktikkan penulisan kata dan kalimat bahasa Arab berdasarkan kaidah imla’ dasar.
  • Mengidentifikasi bentuk penulisan yang benar dan keliru dalam bahasa Arab.

Untuk siapa kelas ini?

  • Pelajar pemula yang ingin mempelajari dasar-dasar penulisan bahasa Arab.
  • Santri dan mahasiswa yang ingin memperbaiki kemampuan menulis bahasa Arab sesuai kaidah yang benar.
  • Pengajar dasar bahasa Arab yang ingin memperkuat pemahaman Ilmu Imla’.
  • Pembelajar bahasa Arab yang ingin mengurangi kesalahan umum dalam penulisan bahasa Arab.

Kelas ini mencakup:

  • Video rekaman kelas (akses seumur hidup di dashboard peserta)
  • Sertifikat
  • Kitab (PDF) materi ajar
  • الإملاء الميسر 7.7 MB
  • Bab ini menjadi pengantar untuk memahami Ilmu Imla’ sebagai salah satu cabang ilmu yang membahas kaidah penulisan bahasa Arab. Pembahasan diawali dengan pengertian Ilmu Imla’ dari sisi bahasa dan istilah, kemudian dilanjutkan dengan ruang lingkup kajiannya serta kedudukannya dalam pembelajaran bahasa Arab. Melalui pengantar ini, peserta akan memperoleh gambaran mengenai tujuan, fungsi, dan posisi Ilmu Imla’ dalam menjaga ketepatan penulisan bahasa Arab.
    Selain itu, peserta akan mempelajari manfaat dan keutamaan mempelajari Ilmu Imla’, mengenal para ulama yang berperan dalam peletakan dasar ilmu ini, serta mengetahui berbagai nama yang digunakan untuk menyebut Ilmu Imla’ beserta sumber pengambilannya. Pembahasan juga mencakup hukum mempelajari Ilmu Imla’ dan pengenalan terhadap jenis-jenis Imla’ yang menjadi landasan sebelum memasuki pembahasan pada bab-bab berikutnya. Dengan memahami materi ini, peserta memiliki bekal awal untuk mempelajari kaidah penulisan bahasa Arab secara lebih terarah dan sistematis.
  • Bab ini membahas kaidah penulisan Alif Lam Qamariyyah dan Alif Lam Syamsiyyah sebagai salah satu dasar dalam penulisan bahasa Arab. Pembahasan diawali dengan pengertian masing-masing jenis Alif Lam, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai perbedaan kaidah penulisannya sehingga peserta dapat memahami karakteristik dan penggunaannya secara tepat.
    Selanjutnya, peserta akan mempelajari empat belas huruf yang termasuk ke dalam kelompok Qamariyyah dan empat belas huruf yang termasuk ke dalam kelompok Syamsiyyah, disertai bait atau rumus yang digunakan untuk memudahkan proses menghafal. Pembahasan ditutup dengan latihan soal aplikatif sebagai sarana untuk menguji pemahaman dan melatih kemampuan peserta dalam membedakan serta menerapkan kaidah penulisan Alif Lam Qamariyyah dan Alif Lam Syamsiyyah pada berbagai contoh kata.
  • Bab ini membahas kaidah penulisan dalam Ilmu Imla’ ketika huruf Lam Jar (لِـ) maupun huruf Baa (بِـ), Faa (فَ), dan Kaaf (ك) bergabung dengan kata yang diawali Alif Lam. Pembahasan difokuskan pada perubahan bentuk penulisan yang terjadi akibat pertemuan huruf-huruf tersebut dengan Alif Lam, beserta kaidah yang menjadi dasar penulisannya.
    Melalui bab ini, peserta akan mempelajari aturan penulisan yang benar pada setiap kondisi tersebut beserta contoh-contoh penerapannya. Dengan memahami kaidah ini, peserta akan lebih cermat dalam menulis kata-kata yang mengalami penggabungan huruf sehingga mampu menerapkan aturan Ilmu Imla’ secara tepat dalam berbagai bentuk penulisan bahasa Arab.
  • Kuis Sesi Pertama Kuis · 10 Soal
  • Bab ini memberikan pemahaman mendasar mengenai kaidah penulisan dua jenis huruf ta' dalam tata bahasa Arab, yaitu ta' marbuthah (ة/ـة) dan ta' maftuhah (ت). Pembahasan diawali dengan mengenalkan definisi serta perbedaan mendasar pada bentuk dan cara pelafalan kedua huruf tersebut. Melalui pendekatan yang terstruktur, materi ini membimbing peserta untuk mengenali letak dan aturan penggunaan masing-masing huruf secara tepat pada kata kerja (fi'il), kata benda (isim), maupun huruf.
    Secara lebih rinci, peserta akan mempelajari hal-hal penting dalam penulisan ta' marbuthah, seperti kewajiban menyertakan dua titik di atasnya untuk membedakannya dari huruf ha' (ـه), serta perubahannya menjadi ta' maftuhah ketika bersambung dengan kata ganti (dhamir). Selain itu, materi ini mengulas catatan khusus mengenai keunikan penulisan dalam rasm mushaf, di mana terdapat beberapa kata berbasis ta' marbuthah yang ditulis menggunakan ta' maftuhah, seperti pada kata rahmah (رحمة) menjadi (رحمت). Pemahaman terhadap kaidah ini memberikan manfaat praktis bagi peserta dalam menghindari kesalahan ejaan (imla'), memperlancar tulisan tangan maupun ketikan, serta melatih ketelitian saat membaca teks-teks klasik dan mushaf Al-Qur'an.
  • Bab ini membahas batasan dasar mengenai huruf hamzah beserta letak posisinya dalam kata dan perbedaannya dengan huruf alif. Pembahasan diawali dengan mengenalkan hakikat hamzah sebagai huruf hijaiyah pertama yang dapat menerima harakat, serta posisinya yang dapat terletak di awal, tengah, maupun akhir kata. Melalui penjelasan yang terstruktur, materi ini membimbing peserta untuk membedakan karakteristik dasar antara hamzah dan alif agar tidak terjadi kekeliruan dalam pengenalan huruf maupun penulisan ejaan.
    Secara lebih rinci, peserta akan mempelajari aspek-aspek pembeda antara kedua huruf tersebut, mulai dari ketentuan posisi alif yang hanya berada di tengah atau akhir kata (seperti pada قَالَ dan دَعَا), syarat didahuluinya alif oleh harakat fathah, hingga sifat alif yang selalu sukun. Sebaliknya, materi ini mengulas bagaimana hamzah dapat menerima berbagai harakat (fathah, dhammah, kasrah) maupun kondisi sukun tanpa disyaratkan harakat tertentu sebelum hurufnya. Pemahaman terhadap materi ini memberikan fondasi yang kuat bagi peserta dalam mengenali struktur kata, melatih ketelitian membaca teks, serta menghindari kesalahan dasar dalam kaidah penulisan bahasa Arab (imla').
  • Kuis Pertemuan Kedua Kuis · 10 Soal
  • Bab ini membahas kaidah mendasar mengenai penulisan dan pelafalan hamzah di awal kata (al-hamzah fi awwal al-kalimah), yang terbagi menjadi dua jenis utama: Hamzah Al-Washl dan Hamzah Al-Qath'. Hamzah Al-Washl didefinisikan sebagai hamzah yang tertulis dan terlafalkan ketika berada di awal pengucapan, namun gugur (tidak terlafalkan) ketika disambung dengan huruf sebelumnya, serta ditulis berupa huruf alif polos tanpa kepala hamzah di atas maupun di bawahnya. Dinamakan washl karena berfungsi sebagai perantara untuk mempermudah pengucapan huruf sukun yang berada tepat setelahnya. Sebaliknya, Hamzah Al-Qath' adalah hamzah yang tetap tertulis dan terlafalkan secara konsisten, baik saat memulai ucapan maupun ketika disambung dengan kata sebelumnya. Bentuk penulisannya dibubuhi kepala hamzah di atas alif jika berharakat fathah atau dhammah, dan di bawah alif jika berharakat kasrah. Untuk membedakan keduanya secara praktis, pembaca dapat menambahkan huruf wawu sebelum kata tersebut; jika hamzah tetap terlafalkan maka berstatus qath' (seperti wa aslama), sedangkan jika hamzah tidak terlafalkan maka berstatus washl (seperti wajtahada).
    Materi ini membedah secara sistematis tempat-tempat khusus (mawādhi') bagi masing-masing jenis hamzah pada kata kerja (fi'il), kata benda (isim), dan huruf (harf). Posisi Hamzah Al-Washl mencakup fi'il amr dari fi'il tsulātsi (uktub), fi'il mādhi, amr, dan masdar dari fi'il khumāsi (intashara, intashir, intishāran) dan sudāsi (istaghfara, istaghfir, istighfāran), sepuluh isim khusus (al-asmā' al-'asyr) seperti ism, ibn, ibnah, imru', imra'ah, ist, itsnān, itsnatān, ibnam, dan aymun, serta huruf Al-Ta'rīf (al-kitāb). Sementara itu, tempat Hamzah Al-Qath' meliputi fi'il mādhi tsulātsi beserta masdarnya (akhadza, akhdzan), seluruh bentuk mādhi, amr, dan masdar dari fi'il rubā'i (ahsana, ahsin, ihsānan), seluruh fi'il mudhāri' mutakallim (aktubu, usāfiru, antashiru, astaghfiru), seluruh isim selain sepuluh isim khusus (Ibrāhīm, Ahmad, anā, idzā), serta seluruh huruf selain Al-Ta'rīf (ilā, illā, innamā, in, an).
    Sebagai penutup pembahasan, materi memberikan catatan penting bahwa penambahan huruf depan seperti huruf 'athaf atau lam tidak mengubah status hamzah di awal kata tersebut dari aturan aslinya. Selain itu, ditegaskan pula kondisi khusus mengenai penulisan Hamzah Al-Washl pada lafaz al-Jalālah (Allah) yang berubah penulisannya menjadi Hamzah Al-Qath' ketika berada dalam struktur pemanggilan atau doa (nida'), yaitu pada ungkapan Yā Allāh. Pemahaman terhadap bab ini memberikan fondasi yang sangat vital bagi peserta dalam menguasai ketepatan membaca, melafalkan, serta menuliskan struktur kata bahasa Arab secara benar dan baku.
  • Kuis Pertemuan Ketiga Kuis · 10 Soal
  • Pertemuan ini diawali dengan ulasan singkat (murāja'ah) untuk meninjau kembali pemahaman materi sebelumnya mengenai kaidah penulisan hamzah. Sebagai bentuk penyampaian janji pengajar pada pertemuan lalu, sesi ini menghadirkan skema visual terpadu (peta konsep) mengenai posisi Hamzah di awal kata (al-hamzah fi awwal al-kalimah). Penampilan bagan ini bertujuan memberikan gambaran umum yang terstruktur mengenai pembagian Hamzah Al-Washl dan Hamzah Al-Qath' pada kelompok kata Isim, Fi'il, dan Harf sebagai penguat pemahaman sebelum melangkah ke pembahasan berikutnya.
    Melalui peta konsep tersebut, peserta diajak melihat kaidah penulisan hamzah secara komprehensif pada ketiga jenis kata. Pada kelompok Isim, bagan membedakan sepuluh isim khusus (al-asmā' al-'asyr) yang menggunakan Hamzah Al-Washl seperti kata اسم, ابن, dan امرؤ dari jenis kata benda sisanya yang seluruhnya menggunakan Hamzah Al-Qath'. Pada kelompok Fi'il, ditunjukkan pemetaan bentuk kata kerja berdasarkan jumlah hurufnya (tsulātsi, rubā'i, khumāsi, dan sudāsi) beserta posisi mādhi, amr, dan masdar-nya, sekaligus penegasan bahwa Hamzah Al-Mudhaara'ah selalu berstatus Hamzah Al-Qath'. Sementara pada kelompok Harf, bagan memperlihatkan bahwa Al-Ta'rīf menggunakan Hamzah Al-Washl, sedangkan huruf-huruf lainnya berstatus Hamzah Al-Qath'. Pemetaan visual ini membantu peserta menyimpulkan kaidah penulisan hamzah secara lebih intuitif dan mudah diingat.
  • Bab ini membahas secara komprehensif penulisan Hamzah Mutawassithah, yaitu hamzah yang terletak di tengah kata di antara huruf pertama dan terakhir, seperti pada kata سَأَلَ، سُئِلَ dan مُؤْمِنٌ. Materi ini menjelaskan empat bentuk fisik penulisan hamzah menengah, yakni di atas huruf alif, wawu, ya' (nabrah), serta berdiri sendiri sejajar di atas garis (sathr). Landasan utama dalam menentukan bentuk penulisan ini berpatokan pada prinsip pertimbangan harakat terkuat, yaitu dengan membandingkan antara harakat huruf hamzah itu sendiri dan harakat huruf sebelumnya, lalu menuliskan hamzah pada huruf yang sesuai dengan harakat yang lebih kuat. Urutan kekuatan harakat dimulai dari kasrah sebagai yang terkuat (diwakili huruf ya'), diikuti dhammah (diwakili wawu), fathah (diwakili alif), dan sukun sebagai kondisi paling lemah yang tidak memiliki huruf penyesuai.
    Untuk memperjelas kaidah tersebut, materi ini menyajikan analisis contoh konkret seperti kata فَأْسٌ, di mana harakat fathah pada huruf sebelum hamzah lebih kuat daripada sukun pada hamzah sehingga ditulis di atas alif. Begitu pula pada kata مُؤْمِنٌ, harakat dhammah mengalahkan sukun sehingga ditulis di atas wawu, serta kata سُئِلَ, di mana harakat kasrah mengalahkan dhammah sehingga ditulis di atas ya' (nabrah). 
    Sebagai penutup pembahasan, materi membedah tiga kondisi pengecualian (al-halat al-mustatsnah) yang keluar dari kaidah umum kekuatan harakat. Pengecualian tersebut meliputi hamzah berharakat fathah setelah alif sukun yang ditulis sejajar di atas garis seperti قِرَاءَةٌ, hamzah berharakat fathah atau dhammah setelah wawu sukun yang juga ditulis di atas garis seperti مُرُوْءَةٌ, serta hamzah berharakat fathah atau dhammah setelah ya' sukun yang ditulis di atas ya' (nabrah) seperti هَيْئَةٌ. Pemahaman bab ini memberikan landasan yang kuat bagi peserta dalam menguasai ketepatan ortografi dan kaidah penulisan bahasa Arab secara baku.
  • Bab ini membahas kaidah penulisan Hamzah Mutatharrifah, yaitu hamzah yang terletak di akhir kata, seperti pada kata قَرَأَ، جُزْءٌ dan سَمَاءٌ. Berbeda dengan hamzah yang terletak di tengah (mutawassithah) yang mempertimbangkan perbandingan dua harakat, penulisan hamzah di akhir kata ini secara mendasar hanya bergantung pada harakat dari satu huruf tepat sebelum hamzah. Ketentuan penulisannya terbagi ke dalam dua kondisi utama. Kondisi pertama terjadi apabila huruf sebelum hamzah berharakat sukun (sākinan), maka hamzah ditulis mandiri sejajar di atas garis ('alā as-sathr), baik sukun tersebut berupa huruf mati maupun huruf mad, seperti pada kata ضَوْءٌ، مَاءٌ dan شَيْءٌ.
    Kondisi kedua berlaku jika huruf sebelum hamzah berharakat (mutaharrikan), di mana hamzah akan ditulis di atas huruf yang sesuai dengan harakat huruf sebelumnya tersebut. Jika huruf sebelumnya berharakat fathah, maka hamzah ditulis di atas huruf alif, seperti pada kata مَلَأَ dan بَدَأَ. Jika huruf sebelumnya berharakat dhammah, maka hamzah ditulis di atas huruf wawu, seperti pada kata يَجْرُؤُ dan لُؤْلُؤٌ. Sementara itu, jika huruf sebelumnya berharakat kasrah, maka hamzah ditulis di atas huruf ya' tanpa titik, seperti pada kata يُخْطِئُ dan قَارِئٌ. Pemahaman terhadap kaidah ringkas ini memberikan kepastian intuitif bagi peserta dalam menuliskan huruf hamzah di ujung kata secara akurat dan sesuai kaidah ortografi baku.
  • Bab ini membahas kaidah penulisan Tanwin Fathah (Tanwīn al-Fat-h) pada kata benda yang diakhiri oleh Hamzah Mutatharrifah. Secara umum, ketika suatu isim yang berakhiran hamzah diberi tanwin fathah, maka kata tersebut akan ditambahkan huruf alif tanwin (alif at-tanwīn az-zā'idah) di akhirnya, seperti pada kata wadhū'an dan juz'an. Namun, bentuk penulisan hamzah sebelum alif tanwin tersebut bergantung pada sifat huruf yang berada tepat di sebelum hamzah. Jika huruf sebelum hamzah termasuk huruf yang tidak dapat disambung dengan huruf setelahnya (huruf munfashil seperti alif, dal, dzal, ra, zai, dan wawu), maka posisi hamzah tetap ditulis mandiri di atas garis, seperti pada kata hudū'an dan bad'an. Sebaliknya, jika huruf sebelum hamzah merupakan huruf yang dapat disambung (muttashil), maka hamzah diubah penulisannya ke atas huruf ya' (nabrah), seperti pada kata syai'an dan 'ib'an.
    Selain ketentuan umum tersebut, materi ini juga membedah dua kondisi khusus di mana tanwin fathah diletakkan langsung di atas huruf hamzah tanpa ditambahi alif tanwin. Kondisi pertama berlaku apabila sebelum hamzah sudah terdapat huruf alif (alif al-madd), seperti pada kata hawā'an dan samā'an, untuk menghindari penulisan dua alif yang berurutan. Kondisi kedua berlaku apabila hamzah berada tepat di atas huruf alif (al-hamzah al-fauq al-alif), seperti pada kata naba'an dan khatha'an. Pemahaman terhadap kaidah rinci ini melengkapi penguasaan peserta dalam mengaplikasikan penulisan tanwin secara tepat dan rapi pada kata-kata berakhiran hamzah sesuai kaidah ortografi bahasa Arab baku.
  • Kuis Pertemuan Keempat Kuis · 10 Soal
  • Bab ini membahas kaidah ortografi Alif Layyinah, yaitu huruf alif sukun yang didahului oleh huruf berharakat fathah, seperti pada kata صَامَ dan الفَتَى. Posisi Alif Layyinah terbagi dua: di tengah kata yang selalu ditulis tegak (alif qā'imah "ا") seperti بَاعَ dan صَالِحٌ, serta di akhir kata yang memiliki dua bentuk penulisan, yakni alif tegak (alif qā'imah "ا") sepertiدَعَا dan عَصَا, atau alif maqshurah berupa huruf ya tanpa titik ("ى") seperti اهْتَدَى dan يَحْيَى. Ketentuan penulisan alif tegak di akhir kata berlaku pada lima kondisi utama: nama ‘ajam (non-Arab) seperti سُرِيَا dan فَرَنْسَا (kecuali empat nama: مُوْسَى, عِيْسَى, كِسْرَى, بُخَارَى); isim mabni seperti أَنَا, هَذَا, حَيْثُمَا (kecuali empat kata: أَنَّى, مَتَى, لَدَى, أُوْلَى); isim dan fi'il tiga huruf yang alifnya berasal dari perubahan huruf wawu seperti عَصَا, قَفَا, دَعَا, عَلَا; isim dan fi'il yang diakhiri alif dan didahului huruf ya seperti دُنْيَا, خَطَايَا, يَحْيَا, اسْتَحْيَا (kecuali kata  Yahyā sebagai nama orang yang ditulis dengan alif maqshurah "يحيى" untuk membedakannya dari kata kerja yahyā); serta seluruh huruf seperti إِلَّا, كَلَّا, هَلَّا, لَوْلَا (kecuali empat huruf: إِلَى, بَلَى, عَلَى, حَتَّى).
    Sementara itu, penulisan alif maqshurah ("ى") berlaku pada dua tempat utama: isim dan fi'il tiga huruf yang alifnya berasal dari perubahan huruf ya seperti فَتَى, حَصَى, أَتَى, رَمَى, serta seluruh isim dan fi'il yang jumlah hurufnya lebih dari tiga huruf  seperti بُشْرَى, مُصْطَفَى, مُسْتَشْفَى, أَعْطَى, اهْتَدَى, اسْتَغْنَى. Untuk mengetahui asal-usul alif (apakah berasal dari wawu atau ya), materi ini menutup pembahasan dengan memberikan panduan praktis, yakni melalui pengubahan kata benda ke bentuk tatsniyah (عَصَا menjadi عَصَوَانِ, dan فَتَى menjadi فَتَيَانِ) atau bentuk jamak (خُطَا menjadi خُطُوَاتٌ), serta pengubahan fi'il mādhi ke bentuk mudhāri' (دَعَا menjadi يَدْعُو, dan رَمَى menjadi يَرْمِي) atau menyambungkannya dengan dhamir rafa' (دَعَوْتُ, أَتَيْتُ), di samping merujuk langsung pada kamus-kamus bahasa Arab baku.
  • Kuis Pertemuan Kelima Kuis · 10 Soal
  • Materi pada bab ini berfokus pada penulisan kaidah Al-Hadzf wa Az-Ziyaadah (pengeliminasian dan penambahan huruf) dalam ilmu Imla', khususnya pada aturan penghapusan hamzah wasal pada kata Ibn (ابن). Pembahasan diawali dengan penanaman konsep dasar bahwa dalam ortografi bahasa Arab terdapat huruf yang diucapkan tetapi tidak dituliskan (seperti alif (ا) pada الرحمن dan wawu (و) pada داود), serta huruf yang dituliskan tetapi tidak diucapkan (seperti wawu (و) pada عمرو dan alif pembeda (ا) pada كتبوا). Pemahaman ini menjadi fondasi penting agar peserta dapat menuliskan kata-kata Arab sesuai standar penulisan yang benar dan presisi.
    Pada bagian rincian materi, bab ini membedah secara spesifik tiga kondisi utama dihapuskannya hamzah wasal pada kata “ابن” secara penulisan maupun pengucapan. Kondisi pertama berlaku saat kata “ابن” terletak di antara dua nama orang ('alam) dengan lima syarat ketat: tidak ada pemisah antara nama dan kata “ابن”, nama kedua merupakan ayah kandung dari nama pertama, kata “ابن” berbentuk tunggal (mufrad), berkedudukan sebagai sifat (na'at), serta tidak terletak di awal baris penulisan. Adapun kondisi kedua dan ketiga terjadi ketika kata “ابن” didahului oleh hamzah istifham (seperti pada ungkapan “أَبْنُكَ هَذَا؟”) atau didahului oleh huruf nida' (seperti pada ungkapan “يَا بْنَ الأَكْرَمِيْنَ”). Melalui penelaahan kaidah dan latihan ini, peserta dapat lebih cermat dalam menerapkan penulisan hamzah secara akurat dan terhindar dari kesalahan ortografi dalam teks-teks bahasa Arab.
  • Kuis Pertemuan Keenam Kuis · 10 Soal
  • Materi pada modul ini berfokus pada kaidah Hadzfu Ba'dhil Huruf (penghapusan beberapa huruf tertentu) dalam ilmu Imla'. Pembahasan diawali dengan penanaman kaidah dasar bahwa dalam ortografi bahasa Arab terdapat huruf-huruf tertentu yang dihapuskan dari penulisan (rasm) karena tingginya frekuensi penggunaan (kastratul isti’mal), penggabungan kata (idgham), maupun alasan penyederhanaan penulisan (takhfif). Pemahaman ini menjadi fondasi penting bagi pembelajar agar mampu menulis lafaz-lafaz bahasa Arab secara baku sesuai standar ortografi yang mutabar.
    Pada bagian rincian materi, bab ini membedah secara spesifik tempat-tempat dihapuskannya empat huruf utama, yaitu alif, nun, lam, dan wawu. Pemateri menjelaskan lima posisi penghapusan alif, seperti pada lafaz ism dalam kalimat basmalah utuh, kata-kata tertentu (الله, الرَّحْمَن, طه, لكِنَّ), kata tunjuk (ism isyarah), huruf ma istifham yang didahului huruf jar, serta alif pada alif lam ketika didahului huruf jar lam. Selanjutnya, bab ini merinci aturan penghapusan huruf nun pada harf jar عَنْ dan مِنْ ketika bertemu مَنْ atau مَا, serta pada أَنْ masdariyyah yang bertemu لَا nafiyah. Pembahasan ditutup dengan kaidah penghapusan huruf lam pada sebagian ism maushul (seperti الَّذِي dan الَّتِي), penghapusan wawu pada kata seperti دَاوُد, serta penulisan maddah saat alif bertemu hamzah. Melalui penelaahan materi ini, peserta dapat lebih cermat dalam menerapkan standar penulisan Arab yang akurat dan terhindar dari kesalahan penulisan huruf.
  • Kuis Pertemuan Ketujuh Kuis · 10 Soal
  • Materi pada bab ini berfokus pada kaidah penambahan huruf-huruf tertentu dalam penulisan pada ilmu Imla'. Pembahasan diawali dengan penanaman konsep dasar bahwa dalam ortografi bahasa Arab terdapat huruf-huruf tertentu yang ditambahkan secara tulisan (rasm) tetapi tidak diucapkan dalam pelafalan. Pemahaman ini menjadi fondasi penting agar pembelajar dapat menuliskan kata-kata Arab secara presisi dan mampu membedakan fungsi ortografis dari setiap penambahan huruf tersebut.
    Pada bagian rincian materi, bab ini membedah secara spesifik tempat-tempat penambahan tiga huruf utama, yaitu alif, wau, dan haa' as-sakt. Pemateri menjelaskan empat kondisi penambahan alif, seperti penambahan alif pada kata mi'ah (مائة), alif pembeda (al-alif al-faariqah) setelah wau jamaah pada kata kerja, alif ithlaq di akhir bait syair, serta alif tanwin fathah (tanwin an-nashb). Selanjutnya, bab ini merinci penambahan huruf wau pada kata tunjuk (أُولَائِكَ) dan kata أُولُو atau أُولَات, serta pada akhir kata 'Amr (عمرو) saat kondisi rafa' dan jar guna membedakannya dari nama 'Umar (عُمر). Pembahasan ditutup dengan kaidah penambahan haa' as-sakt pada fi'il amr yang tersisa satu huruf (seperti: عِهْ dari fi’il وَعَى), kata tanya مَا yang didahului huruf jar, akhir kata yang berakhiran huruf 'illat, serta akhir kata yang bersambung dengan yaa' al-mutakallim. Melalui penelaahan materi ini, peserta dapat lebih cermat dalam menerapkan standar penulisan Arab yang akurat dan terhindar dari kesalahan ortografi.
  • Kuis Pertemuan Kedelapan Kuis · 10 Soal
  • Materi pada bab ini berfokus pada bab Al-Fashl wa Al-Washl (pemisahan dan penyambungan penulisan kata) dalam ilmu Imla'. Pembahasan diawali dengan penanaman definisi serta kaidah dasar dari fashl dan washl. Pemateri menjelaskan bahwa hukum asal penulisan kata Arab adalah fashl, yakni menuliskan setiap kata secara terpisah dari kata sebelum dan sesudahnya—berdasarkan kaidah bahwa setiap kata yang sah dijadikan titik awal bacaan (ibtida') dan titik berhenti (waqaf) harus ditulis terpisah. Sebaliknya, washl adalah menggabungkan dua kata atau lebih sehingga ditulis seolah menjadi satu kata utuh, yang berlaku bagi kata-kata yang tidak sah berdiri sendiri saat ibtida' (seperti dhamir muttashil) maupun saat waqaf (seperti huruf tunggal ب، ل، و)
    Pada bagian rincian materi, bab ini membedah secara spesifik delapan tempat terjadinya washl dalam penulisan bahasa Arab. Pembahasan mencakup penyambungan dhamir baariz muttashil pada kata kerja atau kata benda, penggabungan zharaf dengan kata إذ yang bertanwin (seperti: حِيْنَئِذٍ dan يَوْمَئِذٍ), serta penulisan bilangan tiga hingga sembilan yang dirangkai dengan kata مِئَة (seperti: ثَلَاثُمِئَة). Selanjutnya, bab ini merinci penggabungan huruf jar dengan ما istifham atau من, penempelan ما pada kata-kata tertentu (seperti: طَالَمَا, قَلَّمَا، أَيْنَمَا), penggabungan لَا nafiyah dengan huruf tertentu (seperti: أَلَّا dan لِكَيْلَا), susunan ungkapan حَبَّذَا, hingga penulisan nama diri yang tersusun secara tarkib mazji (seperti: حضرموت dan سبويه). Melalui penelaahan materi ini, peserta dapat menguasai standar penyambungan kata secara presisi dan terhindar dari kesalahan pemisahan ortografis.
  • Materi pada bab ini berfokus pada pembahasan tanda-tanda baca dalam ilmu Imla'. Pembahasan diawali dengan penanaman definisi serta urgensi tanda baca sebagai simbol korelasional yang diletakkan di antara bagian kalimat atau di akhir kalimat guna membagi, merapikan, dan memperjelas pemaknaan teks. Pemateri menekankan bahwa pemahaman tanda baca sangat krusial; ketepatan penempatannya dapat menjaga keutuhan makna, sedangkan kesalahannya dapat mengubah atau merusak pemahaman teks, ibarat rambu-rambu lalu lintas yang mengarahkan pembaca dalam memahami maksud tulisan.
    Pada bagian rincian materi, bab ini membedah secara spesifik fungsi dan penggunaan berbagai ragam tanda baca utama dalam ortografi Arab. Pembahasan mencakup tanda koma (,) untuk pemisah rincian atau klausa, tanda titik koma (;) untuk hubungan sebab-akibat, tanda titik (.) pada akhir kalimat sempurna, tanda titik dua (:) sebelum penjelasan atau kutipan, tanda tanya (?), serta tanda seru (!). Lebih lanjut, bab ini merinci penggunaan tanda elipsis (…), tanda hubung (-), dua tanda hubung untuk kalimat sisipan (— —), garis miring (/), tanda petik (“ “) untuk kutipan mutlak, serta tanda kurung () untuk penjelasan kata atau rujukan kitab. Melalui penelaahan materi ini, peserta dapat menerapkan kaidah penulisan tanda baca secara presisi sehingga menghasilkan karya tulis bahasa Arab yang rapi, komunikatif, dan berstandar akademis.
  • Kuis Pertemuan Kesembilan Kuis · 10 Soal

Lisanul Arab

Preview Sertifikat